Salah satu perbedaan yang mendasar antara Komunis dan Islam adalah masalah konsep ketuhanan.
DEFINISI KOMUNIS
Komunisme adalah sebuah ideologi. Penganut paham ini berasal dari
“Manifest der Kommunistischen” yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich
Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21
Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada
perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang
kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam
dunia politik.
Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham
kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum
buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih
mementingkan kesejahteraan ekonomi. Akan tetapi, dalam perkembangan
selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara
penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing
mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian
masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai
masyarakat utopia.
SEJARAH KOMUNIS
Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional.
Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan
oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional
merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga
dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.
Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan
alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis. Logika secara
ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal
dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil
dengan melalui perjuangan partai. Partai membutuhkan peran Politbiro
sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil
jika dicetuskan oleh Politbiro.
Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis
sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan
akumulasi modal atas individu. pada prinsipnya semua adalah
direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh
alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat
secara merata, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistem demokrasi
keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena
itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan
anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal
hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.
Secara umum komunisme berlandasan pada teori Materialisme Dialektika dan
Materialisme Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada
kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak ada
pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa “agama dianggap
candu” yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari
pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari
hal yang nyata (kebenaran materi).
Komunis internasional sebagai teori ideologi mulai diterapkan setelah
meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak
saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan
ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham
komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos. Komunis
internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marxis.
KONSEP KETUHANAN KOMUNIS : TUHAN ORANG KOMUNIS ADALAH PEMIMPINNYA SENDIRI
Berdasarkan adanya gambaran pemimpin negara di negara komunis seperti
Uni Soviyet, RRC dan Republik Rakyat Korea (KORUT) sekarang ini. Saking
kultusnya pemimpin komunis yang telah mati diawetkan, dipuja sedemikian
rupa. Tapi jelas berbeda dengan jasad Ferdinand Marcos yang diawetkan.
Walaupun sama-sama diawetkan dan ditutup ruang kaca, namun Ferdinand
Marcos diawetkan bukan karena dipuja rakyatnya, namun sebaliknya ia
diawetkan karena rakyat membencinya, hingga ia dilarang dikubur di
tanah kelahirannya sendiri di Filiphina. miris sekali nasib Ferdinand
Marcos.
Konsep “Tuhan” dalam buku-buku dari kaum komunis yang mengacu pada
teori Alferd North Whitehead, menyatakan tuhan diciptakan oleh pikiran
manusia karena pemahaman akan keabadian. Ia mencontohkan dengan hal yang
sangat sederhana, yakni “nama” orang. seperti nama zein, atau Erni,
Pungky, Nola, dan sebagainya. Menurut mereka nama dianggap sebagai
bagian dari konsep ketuhanan, yakni keabadian. bagaimana nama bisa buat
contoh sebagai konsep ketuhanan? Mereka menggambarkan, bahwa nama
seseorang berdiri diluar badaniah orang tersebut. Nama dipasang di papan
nama di meja kerja DPR, di meja direktur, dihiasi, memakai batu geranit
atau kayu kualitas tinggi. Jika orang itu meninggal, nama itu akan
terus hidup, yakni hidup pada goresan di batu nisan, menjadi obrolan
orang-orang, hingga mungkin jadi jika dia orang yang terkenal, nama itu
akan terus abadi dalam sejarah. Nama menjadi sifat sederhana konsep
ketuhanan, dan menjadi dasar ciri mental manusia untuk memahami
“TUHAN”nya. Maka syarat pertama untuk menjadi tuhan harus ABADI. Hal
ini sesuai dengan cerita Nabi Ibrahim dalam kepercayaan Agama Islam yang
mencari Tuhannya dengan ukuran keabadian.
Kembali ke tema awal, yakni Tuhan para orang Komunis. ideologi komunis
berangkat dari tafsir pemikiran Karl Marx oleh pemikir Rusia pada waktu
itu yang dimodifikasi dalam konsep yang lebih jelas yakni revolusi
komunisme dalam bentuk yang lebih sistematis . Mereka berangkat dari
pemikiran metarialisme yang melihat alam semesta ini secara indrawi.
Maka total mereka tidak meyakini adanya Tuhan seperti pemahaman Tuhan
dalam Islam. Tapi perlu digaris bawahi, bahwa atheis tidak mesti
komunis, tapi komunis kalo yang idealis pasti atheis.
Namun, mengapa para Pemimpin besar Komunisme selalu diawetkan dalam
Mousoleum? dan selalu dipajang dalam lukisan yang besar, patung yang
besar dan lapangan yang besar sebagai tempat penghormatan. Apakah
komunisme seperti halnya Firaun dalam cerita kaum Islam, Kristen, dan
Yahudi yang juga menginginkan keabadian layaknya Tuhan, ataukah dia
sendiri yang menciptakan Tuhan itu sendiri dalam dirinya? Jika seperti
itu adanya, maka orang komunis tak ubahnya dengan manusia yang beragama.
yang membedakannya adalah tuhan mereka terlihat secara indrawi, dan
tuhan para agamis melihatnya secara metafisik. Rusia dan China yang
sekarang sudah semakin jelas alirannya (komunisme rasa kapitalis dan
bersifat mekanik), tidak lagi mempunyai sosok pemimpin layaknya Lenin,
S.Talin, atau Mao yang dituhankan. Namun Korea utara hingga sekarang
masih terus melakukan itu. Belum ada dalam sejarah negara komunis
menganut warisan kekuasaan layaknya dalam sistem monarki seperti di
Korea Utara. Hal ini sebagai upaya untuk melindungi asset karena dalam
konsep komunis, harta seperti properti tidak boleh menjadi hak milik
pribadi, hanya boleh digunakan.
Berdasarkan konsep tersebut, jika komunisme beranggapan seperti halnya
Firaun dalam cerita kaum Islam, Kristen, dan Yahudi yang menginginkan
keabadian layaknya Tuhan, ataukah mereka sendiri yang menciptakan Tuhan
itu sendiri dalam diri mereka. Tentunya, hal ini adalah melawan akal
sehat manusia.
ISLAM
Islam (Arab: al-islām, الإسلام : “berserah diri kepada Tuhan”) adalah
agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Islam memiliki arti
“penyerahan”, atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: الله,
Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti
“seorang yang tunduk kepada Tuhan”, atau lebih lengkapnya adalah
Muslimin bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan
bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi dan
rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa Muhammad
adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia oleh Allah.
SEJARAH ISLAM
Jazirah Arab sebelum kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan
perlintasan perdagangan dalam Jalan Sutera yang menghubungkan antara
Indo Eropa dengan kawasan Asia di timur. Kebanyakan orang Arab merupakan
penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama
Kristen dan Yahudi. Mekkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab
ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telaga
Zamzam, dan yang terpenting adalah Ka’bah. Masyarakat ini disebut pula
Jahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam
intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Warga Quraisy terkenal
dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai
salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
Islam bermula pada tahun 611 ketika wahyu pertama diturunkan kepada
rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira’, Arab
Saudi.
Muhammad dilahirkan di Mekkah pada tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Gajah
(571 masehi). Ia dilahirkan di tengah-tengah suku Quraish pada zaman
jahiliyah, dalam kehidupan suku-suku padang pasir yang suka berperang
dan menyembah berhala. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, sebab
ayahnya Abdullah wafat ketika ia masih berada di dalam kandungan. Pada
saat usianya masih 6 tahun, ibunya Aminah meninggal dunia. Sepeninggalan
ibunya, Muhammad dibesarkan oleh kakeknya Abdul Muthalib dan
dilanjutkan oleh pamannya yaitu Abu Talib. Muhammad kemudian menikah
dengan seorang janda bernama Siti Khadijah dan menjalani kehidupan
secara sederhana.
Ketika Muhammad berusia 40 tahun, ia mulai mendapatkan wahyu yang
disampaikan Malaikat Jibril, dan sesudahnya selama beberapa waktu mulai
mengajarkan ajaran Islam secara tertutup kepada para sahabatnya. Setelah
tiga tahun menyebarkan Islam secara sembunyi-sembunyi, ia akhirnya
menyampaikan ajaran Islam secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah,
yang mana sebagian menerima dan sebagian lainnya menentangnya.
Pada tahun 622 Masehi, Muhammad dan pengikutnya berpindah ke Madinah.
Peristiwa ini disebut Hijrah, peristiwa itu menjadi dasar acuan
permulaan perhitungan kalender Islam. Di Madinah, Muhammad dapat
menyatukan orang-orang anshar (kaum muslimin dari Madinah) dan muhajirin
(kaum muslimin dari Mekkah), sehingga umat Islam semakin menguat. Dalam
setiap peperangan yang dilakukan melawan orang-orang kafir, umat Islam
selalu mendapatkan kemenangan. Dalam fase awal ini, tak terhindarkan
terjadinya perang antara Mekkah dan Madinah.
Keunggulan diplomasi nabi Muhammad pada saat perjanjian Hudaibiyah,
menyebabkan umat Islam memasuki fase yang sangat menentukan. Banyak
penduduk Mekkah yang sebelumnya menjadi musuh kemudian berbalik memeluk
Islam, sehingga ketika penaklukan kota Mekkah oleh umat Islam tidak
terjadi pertumpahan darah. Ketika Muhammad wafat, hampir seluruh Jazirah
Arab telah memeluk agama Islam.
Setelah Muhammad wafat, kepemimpinan umat Islam dipimpin oleh Khalifah
Rasyidin atau Khulafaur Rasyidin. Khalifah Rasyidin atau Khulafaur
Rasyidin memilki arti pemimpin yang diberi petunjuk, diawali dengan
kepemimpinan Abu Bakar, dan dilanjutkan oleh kepemimpinan Umar bin
Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib. Pada masa ini umat
Islam mencapai kestabilan politik dan ekonomi. Abu Bakar memperkuat
dasar-dasar kenegaraan umat Islam dan mengatasi pemberontakan beberapa
suku-suku Arab yang terjadi setelah meninggalnya Muhammad. Umar bin
Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abu Thalib berhasil memimpin
balatentara dan kaum Muslimin pada umumnya untuk mendakwahkan Islam,
terutama ke Syam, Mesir, dan Irak. Dengan takluknya negeri-negeri
tersebut, banyak harta rampasan perang dan wilayah kekuasaan yang dapat
diraih oleh umat Islam.
Setelah periode Khalifah Rasyidin, kepemimpinan umat Islam berganti dari
tangan ke tangan dengan pemimpinnya yang juga disebut “khalifah”, atau
kadang-kadang disebut “amirul mukminin”, “sultan”, dan sebagainya. Pada
periode ini sampai saat ini, khalifah tidak lagi ditentukan berdasarkan
orang yang terbaik di kalangan umat Islam, melainkan secara
turun-temurun dalam satu dinasti (bahasa Arab: bani) sehingga banyak
yang menyamakannya dengan kerajaan; misalnya kekhalifahan Bani Umayyah,
Bani Abbasiyyah, hingga Bani Utsmaniyyah yang kesemuanya diwariskan
berdasarkan keturunan.
KONSEP KETUHANAN DALAM ISLAM : ALLAH ADALAH TUHAN ALAM SEMESTA
Dalam Al-Quran terdapat Perkataan “ilah” yang diterjemahkan “Tuhan”,
dipakai untuk menyatakan berbagai obyek yang dibesarkan atau
dipentingkan manusia, misalnya dalam QS 45 (Al-Jatsiiyah): 23, yaitu:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya….?”
Dalam QS 28 (Al-Qashash):38, perkataan ilah dipakai oleh Fir’aun untuk dirinya sendiri:
“Dan Fir’aun berkata: Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.”
Contoh ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa perkataan ilah bisa
mengandung arti berbagai benda, baik abstrak (nafsu atau keinginan
pribadi maupun benda nyata (Fir’aun atau penguasa yang dipatuhi dan
dipuja). Perkataan ilah dalam Al-Quran juga dipakai dalam bentuk tunggal
(mufrad: ilaahun), ganda (mutsanna:ilaahaini), dan banyak (jama’:
aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat
mengerti dengan definisi Tuhan atau Ilah yang tepat, berdasarkan logika
Al-Quran sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh
manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai
oleh-Nya.
Perkataan dipentingkan hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di
dalamnya yang dipuja, dicintai, diagungkan, diharap-harapkan dapat
memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula sesuatu yang
ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian.
Ibnu Taimiyah memberikan definisi al-ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk
kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya,
kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan
bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari
padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut
cinta kepadanya (M.Imaduddin, 1989:56)
Atas dasar definisi ini, Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang
dipentingkan manusia. Yang pasti, manusia tidak mungkin ateis, tidak
mungkin tidak ber-Tuhan. Berdasarkan logika Al-Quran, setiap manusia
pasti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan begitu, orang-orang
komunis pada hakikatnya ber-Tuhan juga. Adapun Tuhan mereka ialah
ideologi atau angan-angan (utopia) mereka.
Dalam ajaran Islam diajarkan kalimat “la ilaaha illa Allah”. Susunan
kalimat tersebut dimulai dengan peniadaan, yaitu “tidak ada Tuhan”,
kemudian baru diikuti dengan penegasan “melainkan Allah”. Hal itu
berarti bahwa seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam
Tuhan terlebih dahulu, sehingga yang ada dalam hatinya hanya ada satu
Tuhan, yaitu Allah.
PEMIKIRAN UMAT ISLAM
Pemikiran terhadap Tuhan yang melahirkan Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, atau
Ilmu Ushuluddin di kalangan umat Islam, timbul sejak wafatnya Nabi
Muhammad SAW. Secara garis besar, ada aliran Islam yang bersifat
liberal, tradisional, dan ada pula yang bersifat di antara keduanya.
Sebab timbulnya aliran tersebut adalah karena adanya perbedaan
metodologi dalam memahami Al-Quran dan Hadis dengan pendekatan
kontekstual sehingga lahir aliran yang bersifat tradisional. Sedang
sebagian umat Islam yang lain memahami dengan pendekatan antara
kontektual dengan tektual sehingga lahir aliran yang bersifat antara
liberal dengan tradisional. Ketiga corak pemikiran ini telah mewarnai
sejarah pemikiran ilmu ketuhanan dalam Islam. Aliran tersebut yaitu:
a. Mu’tazilah yang merupakan kaum rasionalis di kalangan muslim, serta
menekankan pemakaian akal pikiran dalam memahami semua ajaran dan
keimanan dalam Islam. Orang islam yang berbuat dosa besar, tidak kafir
dan tidak mukmin. Ia berada di antara posisi mukmin dan kafir (manzilah
bainal manzilatain).
Dalam menganalisis ketuhanan, mereka memakai bantuan ilmu logika Yunani,
satu sistem teologi untuk mempertahankan kedudukan keimanan. Hasil dari
paham Mu’tazilah yang bercorak rasional ialah muncul abad kemajuan ilmu
pengetahuan dalam Islam. Namun kemajuan ilmu pengetahuan akhirnya
menurun dengan kalahnya mereka dalam perselisihan dengan kaum Islam
ortodoks. Mu’tazilah lahir sebagai pecahan dari kelompok Qadariah,
sedang Qadariah adalah pecahan dari Khawarij.
b. Qodariah yang berpendapat bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam
berkehendak dan berbuat. Manusia sendiri yang menghendaki apakah ia akan
kafir atau mukmin dan hal itu yang menyebabkan manusia harus
bertanggung jawab atas perbuatannya.
c. Jabariah yang merupakan pecahan dari Murji’ah berteori bahwa manusia
tidak mempunyai kemerdekaan dalam berkehendak dan berbuat. Semua tingkah
laku manusia ditentukan dan dipaksa oleh Tuhan.
d. Asy’ariyah dan Maturidiyah yang pendapatnya berada di antara Qadariah dan Jabariah
Semua aliran itu mewarnai kehidupan pemikiran ketuhanan dalam kalangan
umat islam periode masa lalu. Pada prinsipnya aliran-aliran tersebut di
atas tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam. Oleh karena itu umat
Islam yang memilih aliran mana saja diantara aliran-aliran tersebut
sebagai teologi mana yang dianutnya, tidak menyebabkan ia keluar dari
islam. Menghadapi situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan sekarang
ini, umat Islam perlu mengadakan koreksi ilmu berlandaskan al-Quran dan
Sunnah Rasul, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu. Di
antara aliran tersebut yang nampaknya lebih dapat menunjang perkembangan
ilmu pengetahuan dan meningkatkan etos kerja adalah aliran Mu’tazilah
dan Qadariah.
TUHAN MENURUT ISLAM
Pengkajian manusia tentang Tuhan, yang hanya didasarkan atas pengamatan
dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab
Tuhan merupakan sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan
yang hanya berasal dari manusia biarpun dinyatakan sebagai hasil
renungan maupun pemikiran rasional, tidak akan benar.
Informasi tentang asal-usul kepercayaan terhadap Tuhan antara lain tertera dalam:
1. QS 21 (Al-Anbiya): 92, “Sesungguhnya agama yang diturunkan Allah
adalah satu, yaitu agama Tauhid. Oleh karena itu seharusnya manusia
menganut satu agama, tetapi mereka telah berpecah belah. Mereka akan
kembali kepada Allah dan Allah akan menghakimi mereka.
Ayat tersebut di atas memberi petunjuk kepada manusia bahwa sebenarnya
tidak ada perbedaan konsep tentang ajaran ketuhanan sejak zaman dahulu
hingga sekarang. Melalui Rasul-rasul-Nya, Allah memperkenalkan dirinya
melalui ajaran-Nya, yang dibawa para Rasul, Adam sebagai Rasul pertama
dan Muhammad sebagai terakhir.
Jika terjadi perbedaan-perbedaan ajaran tentang ketuhanan di antara
agama-agama adalah karena perbuatan manusia. Ajaran yang tidak sama
dengan konsep ajaran aslinya, merupakan manipulasi dan kebohongan
manusia yang teramat besar.
2. QS 5 (Al-Maidah):72, “Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil sembahlah
Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan
(sesuatu dengan) Allah, maka pasti mengharamkan kepadanya syurga, dan
tempat mereka adalah neraka.
3. QS 112 (Al-Ikhlas): 1-4, “Katakanlah, Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tiada
beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara
dengan Dia.”
Dari ungkapan ayat-ayat tersebut, jelas bahwa Tuhan adalah Allah. Tuhan
yang haq dalam konsep al-Quran adalah Allah. Hal ini dinyatakan antara
lain dalam surat Ali Imran ayat 62, surat Shad 35 dan 65, surat Muhammad
ayat 19. Dalam al-quran diberitahukan pula bahwa ajaran tentang Tuhan
yang diberikan kepada Nabi sebelum Muhammad adalah Tuhan Allah juga.
Perhatikan antara lain surat Hud ayat 84 dan surat al-Maidah ayat 72.
Tuhan Allah adalah esa sebagaimana dinyatakan dalam surat al-Ankabut
ayat 46, Thaha ayat 98, dan Shad ayat 4.
Dengan mengemukakan alasan-alasan tersebut di atas, maka menurut
informasi al-Quran, sebutan yang benar bagi Tuhan yang benar-benar Tuhan
adalah sebutan “Allah”, dan kemahaesaan Allah tidak melalui teori
evolusi melainkan melalui wahyu yang datang dari Allah. Hal ini berarti
konsep tauhid telah ada sejak datangnya Rasul Adam di muka bumi. Esa
menurut al-Quran adalah esa yang sebenar-benarnya esa, yang tidak
berasal dari bagian-bagiandan tidak pula dapat dibagi menjadi
bagian-bagian.
Keesaan Allah adalah mutlak. Ia tidak dapat didampingi atau disejajarkan
dengan yang lain. Sebagai umat Islam, yang mengikrarkan kalimat
syahadat La ilaaha illa Allah harus menempatkan Allah sebagai prioritas
utama dalam setiap tindakan dan ucapannya.
Konsepsi kalimat La ilaaha illa Allah yang bersumber dari al-quran
memberi petunjuk bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari
Tuhan yang lain selain Allah dan hal itu akan kelihatan dalam sikap dan
praktik menjalani kehidupan.
PEMBUKTIAN KEBERADAAN (WUJUD) TUHAN
1. Metode Pembuktian Ilmiah
Tantangan zaman modern terhadap agama terletak dalam masalah metode
pembuktian. Metode ini mengenal hakikat melalui percobaan dan
pengamatan, sedang akidah agama berhubungan dengan alam di luar indera,
yang tidak mungkin dilakukan percobaan (agama didasarkan pada analogi
dan induksi). Hal inilah yang menyebabkan menurut metode ini agama
batal, sebab agama tidak mempunyai landasan ilmiah.
Sebenarnya sebagian ilmu modern juga batal, sebab juga tidak mempunyai
landasan ilmiah. Metode baru tidak mengingkari wujud sesuatu, walaupun
belum diuji secara empiris. Di samping itu metode ini juga tidak menolak
analogi antara sesuatu yang tidak terlihat dengan sesuatu yang telah
diamati secara empiris. Hal ini disebut dengan “analogi ilmiah” dan
dianggap sama dengan percobaan empiris.
Suatu percobaan dipandang sebagai kenyataan ilmiah, tidak hanya karena
percobaan itu dapat diamati secara langsung. Demikian pula suatu analogi
tidak dapat dianggap salah, hanya karena dia analogi. Kemungkinan benar
dan salah dari keduanya berada pada tingkat yang sama.
Percobaan dan pengamatan bukanlah metode sains yang pasti, karena ilmu
pengetahuan tidak terbatas pada persoalan yang dapat diamati dengan
hanya penelitian secara empiris saja. Teori yang disimpulkan dari
pengamatan merupakan hal-hal yang tidak punya jalan untuk mengobservasi.
Orang yang mempelajari ilmu pengetahuan modern berpendapat bahwa
kebanyakan pandangan pengetahuan modern, hanya merupakan interpretasi
terhadap pengamatan dan pandangan tersebut belum dicoba secara empiris.
Oleh karena itu banyak sarjana percaya padanya hakikat yang tidak dapat
diindera secara langsung. Sarjana mana pun tidak mampu melangkah lebih
jauh tanpa berpegang pada kata-kata seperti: “Gaya” (force), “Energy”,
“alam” (nature), dan “hukum alam”. Padahal tidak ada seorang sarjana pun
yang mengenal apa itu: “Gaya, energi, alam, dan hukum alam”. Sarjana
tersebut tidak mampu memberikan penjelasan terhadap kata-kata tersebut
secara sempurna, sama seperti ahli teologi yang tidak mampu memberikan
penjelasan tentang sifat Tuhan. Keduanya percaya sesuai dengan bidangnya
pada sebab-sebab yang tidak diketahui.
Dengan demikian tidak berarti bahwa agama adalah “iman kepada yang
ghaib” dan ilmu pengetahuan adalah percaya kepada “pengamatan ilmiah”.
Sebab, baik agama maupun ilmu pengetahuan kedua-duanya berlandaskan pada
keimanan pada yang ghaib. Hanya saja ruang lingkup agama yang
sebenarnya adalah ruang lingkup “penentuan hakikat” terakhir dan asli,
sedang ruang lingkup ilmu pengetahuan terbatas pada pembahasan ciri-ciri
luar saja. Kalau ilmu pengtahuan memasuki bidang penentuan hakikat,
yang sebenarnya adalah bidang agama, berarti ilmu pengetahuan telah
menempuh jalan iman kepada yang ghaib. Oleh sebab itu harus ditempuh
bidang lain.
Para sarjana masih menganggap bahwa hipotesis yang menafsirkan
pengamatan tidak kurang nilainya dari hakikat yang diamati. Mereka tidak
dapat mengatakan: Kenyataan yang diamati adalah satu-satunya “ilmu”
dan semua hal yang berada di luar kenyataan bukan ilmu, sebab tidak
dapat diamati. Sebenarnya apa yang disebut dengan iman kepada yang ghaib
oleh orang mukmin, adalah iman kepada hakikat yang tidak dapat diamati.
Hal ini tidak berarti satu kepercayaan buta, tetapi justru merupakan
interpretasi yang terbaik terhadap kenyataan yang tidak dapat diamati
oleh para sarjana.
2. Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang
pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu
kekuatan yang telah menciptakannya, suatu “Akal” yang tidak ada
batasnya. Setiap manusia normal percaya bahwa dirinya “ada” dan percaya
pula bahwa alam ini “ada”. Dengan dasar itu dan dengan kepercayaan
inilah dijalani setiap bentuk kegiatan ilmiah dan kehidupan.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara logika harus percaya
tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan:
<<Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya Khaliq>>
adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya
sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu
bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana
akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan
sendirinya tanpa pencipta?
3. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Fisika
Sampai abad ke-19 pendapat yang mengatakan bahwa alam menciptakan
dirinya sendiri (alam bersifat azali) masih banyak pengikutnya. Tetapi
setelah ditemukan “hukum kedua termodinamika” (Second law of
Thermodynamics), pernyataan ini telah kehilangan landasan berpijak.
Hukum tersebut yang dikenal dengan hukum keterbatasan energi atau teori
pembatasan perubahan energi panas membuktikan bahwa adanya alam tidak
mungkin bersifat azali. Hukum tersebut menerangkan bahwa energi panas
selalu berpindah dari keadaan panas beralih menjadi tidak panas. Sedang
kebalikannya tidak mungkin, yakni energi panas tidak mungkin berubah
dari keadaan yang tidak panas menjadi panas. Perubahan energi panas
dikendalikan oleh keseimbangan antara “energi yang ada” dengan “energi
yang tidak ada”.
Bertitik tolak dari kenyataan bahwa proses kerja kimia dan fisika di
alam terus berlangsung, serta kehidupan tetap berjalan. Hal itu
membuktikan secara pasti bahwa alam bukan bersifat azali. Seandainya
alam ini azali, maka sejak dulu alam sudah kehilangan energinya, sesuai
dengan hukum tersebut dan tidak akan ada lagi kehidupan di alam ini.
Oleh karena itu pasti ada yang menciptakan alam yaitu Tuhan.
4. Pembuktian Adanya Tuhan dengan Pendekatan Astronomi
Benda alam yang paling dekat dengan bumi adalah bulan, yang jaraknya
dari bumi sekitar 240.000 mil, yang bergerak mengelilingi bumi dan
menyelesaikan setiap edarannya selama dua puluh sembilan hari sekali.
Demikian pula bumi yang terletak 93.000.000.000 mil dari matahari
berputar pada porosnya dengan kecepatan seribu mil per jam dan menempuh
garis edarnya sepanjang 190.000.000 mil setiap setahun sekali. Di
samping bumi terdapat gugus sembilan planet tata surya, termasuk bumi,
yang mengelilingi matahari dengan kecepatan luar biasa.
Matahari tidak berhenti pada suatu tempat tertentu, tetapi ia beredar
bersama-sama dengan planet-planet dan asteroid mengelilingi garis
edarnya dengan kecepatan 600.000 mil per jam. Di samping itu masih ada
ribuan sistem selain “sistem tata surya” kita dan setiap sistem
mempunyai kumpulan atau galaxy sendiri-sendiri. Galaxy-galaxy tersebut
juga beredar pada garis edarnya. Galaxy dimana terletak sistem matahari
kita, beredar pada sumbunya dan menyelesaikan edarannya sekali dalam
200.000.000 tahun cahaya.
Logika manusia dengan memperhatikan sistem yang luar biasa dan
organisasi yang teliti, akan berkesimpulan bahwa mustahil semuanya ini
terjadi dengan sendirinya, bahkan akan menyimpulkan bahwa di balik
semuanya itu ada kekuatan maha besar yang membuat dan mengendalikan
sistem yang luar biasa tersebut, kekuatan maha besar tersebut adalah
Tuhan.
Metode pembuktian adanya Tuhan melalui pemahaman dan penghayatan
keserasian alam tersebut oleh Ibnu Rusyd diberi istilah “dalil ikhtira”.
Di samping itu Ibnu Rusyd juga menggunakan metode lain yaitu “dalil
inayah”. Dalil ‘inayah adalah metode pembuktian adanya Tuhan melalui
pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia (Zakiah
Daradjat, 1996:78-80).