Revolusi Mental: Antara Jokowi dan Karl Marx
OPINI | 29 June 2014 | 04:27Kekuatan tersebut adalah gagasan Jokowi untuk mengubah bangsa yang kelak akan dipimpinnya: Revolusi Mental. Fadli Zon tahu betul bahwa ini gagasan yang luar biasa dan tidak bisa dipandang remeh. Revolusi mental adalah perubahan paling mendasar yang harus dilakukan bangsa ini untuk menjadi besar. Tidak peduli Indonesia mau jadi negara hebat atau macan asia, revolusi mental harus menjadi awalnya. Sedikit demi sedikit publik (terutama kaum muda) mulai mengidentikkan Jokowi dengan revolusi mental. Fadli Zon sadar bahwa keadaan ini harus segera dihentikan sebelum terlambat. Maka dari itu ia mencoba memfitnah revolusi mental Jokowi sebagai gagasan yang jahat dan harus dihindari.
Saat orang ramai mempermasalahkan video Ahmad Dhani yang berpakaian ala petinggi NAZI, Fadli Zon mendapat kesempatan untuk menyerang gagasan cemerlang Jokowi. Dalam akun twitter-nya ia mengatakan ini: “…’Revolusi Mental’ punya akar kuat tradisi paham komunis” Selanjutnya ia menambahkan bahwa Karl Marx menggunakan istilah “revolusi mental” dalam satu bukunya berjudul “Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte” yang terbit tahun 1869. Selain itu, Fadli Zon juga mengungkapkan bahwa revolusi mental juga menjadi tujuan dari “May Four Enlightenment Movement” di China 1919. Gerakan itu, diprakarsai Chen Duxui, pendiri Partai Komunis Cina (PKC). Lanjutnya lagi, “Aidit PKI, menghilangkan nama Achmad dari nama depannya, dan menggantinya dengan Dipa Nusantara (DN) dengan alasan revolusi mental, yaitu menghapus (nama) berbau agama.” Dengan pernyataan tersebut Fadli Zon ingin menggiring persepsi publik agar melihat gagasan revolusi mental Jokowi sebagai gagasan komunis yang harus ditolak. Ini opini yang menyesatkan dan bisa dikategorikan sebagai kampanye hitam (fitnah).
Sebagai seorang intelektual Fadli Zon tentunya tahu bahwa sebuah kata bisa memiliki makna yang berbeda ketika diucapkan oleh orang yang punya latar belakang pemikiran berbeda. Kata ‘agama’ bagi seorang Karl Marx yang atheis bermakna sangat negatif sehingga ia menyebutnya sebagai ‘candu rakyat’ yang harus dibasmi. Sebaliknya kata ‘agama’ bagi seorang Gus Dur atau orang beriman lainnya pasti memiliki makna yang positif sebagai jalan keselamatan yang harus ditumbuhkembangkan dalam kehidupan manusia. Dengan alur logika yang sama, kata ‘Revolusi Mental’ juga memiliki makna yang berbeda jauh antara seorang Karl Marx yang atheis dan Jokowi yang beriman.
Sejauh yang saya tahu Karl Marx sendiri tidak pernah menjelaskan lebih spesifik mengenai revolusi mental yang dimaksudnya, dunia lebih mengingat Karl Marx dengan revolusi sosialnya yang digunakan oleh Vladimir Lenin untuk menggerakkan Revolusi Bolshevik pada tahun 1917. Kalaupun gagasan revolusi mental kemudian banyak digunakan oleh kaum komunis, maka yang dimaksud adalah mengubah nilai-nilai masyarakat yang dipengaruhi oleh agama (yang dianggap kaum komunis sebagai candu rakyat) dengan nilai-nilai humanisme atheis yang baru.
Sudah pasti ini tidak sama dengan revolusi mental yang digagas oleh Jokowi karena tidak sedikitpun ia bermaksud meniadakan peran agama dalam masalah ini. Melalui revolusi mental Jokowi ingin melakukan perubahan mendasar pada karakter bangsa dengan mengaktualkan nilai-nilai unggul yang terkandung dalam semua agama seperti kejujuran, keadilan, disiplin, kepedulian pada sesama, dan ketaatan pada Tuhan. Baginya ini menjadi langkah awal yang fundamental dan harus diambil untuk mewujudkan cita-cita menjadi bangsa Indonesia yang hebat dan berdaulat. Revolusi mental Jokowi sama sekali tidak berakar pada komunisme yang cenderung atheis tapi justru lebih dekat dengan nilai-nilai Pancasila yang berketuhanan, yaitu nilai yang sudah kita sepakati bersama sebagai landasan hidup di negeri tercinta ini.
Saya yakin, sebagai seorang intelektual Fadli Zon tahu betul bahwa gagasan Jokowi sangat luar biasa dan mendasar. Revolusi mental yang digagasnya membuat visi dan misi yang sudah dipersiapkan dengan teliti oleh Prabowo selama lima tahun tampak seperti pilihan kelas dua. Kenyataan ini membuat Fadli Zon terpaksa melacurkan intelektualitasnya dengan melancarkan tuduhan murahan. Ironisnya, tuduhan tersebut sekarang malah membentur muka sendiri karena foto Fadli Zon yang sedang berziarah ke makam Karl Marx sambil membawa bunga kini beredar luas dan menjadi bahan olok-olokan.
Revolusi mental Jokowi sama sekali tidak ada hubungannya dengan revolusi mental ala komunis meskipun keduanya menggunakan istilah yang sama. Jika Fadli Zon (atau siapapun) masih ingin memaksakan tuduhan seperti itu, sebaiknya dia mulai berpikir untuk merobek warna merah dari bendera kita, karena warna merah itu identik dengan warna komunis. Tapi bagaimanapun juga ada sisi positif yang bisa diambil dari fitnah Fadli Zon. Bagi saya tuduhan itu merupakan suatu pengakuan tidak langsung bahwa gagasan seorang asli Indonesia yang bersahaja bernama Joko Widodo ternyata setara atau bahkan lebih hebat dari gagasan pemikir besar yang telah mengubah dunia seperti Karl Marx.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar