Daniz Whinchester menulis catatan baru: Agama Sebagai Candu Masyarakat.
www.daniz.com
present : Apayang anda pikirkan, yang menjadi orientasi dalam kehidupan
anda saat ini, carapandang mengenai diri dan masyarakat, mengenai hidup
dan kehidupan dalam semuaaspek, sangat dipengaruhi oleh paradigma yang
anda ikuti dan berlaku dalammasyarakat. Bagaimana paradigma yang berlaku
dan diikuti sebagian besar orangdalam suatu masyarakat, secara umum
bisa kita cermati dalam logika stereotipUntuk Apa Beragama ?
Sebagaimana kita fahami, agama merupakan sebuah jalan bagi manusia untukmencari kebahagiaan. Agama menjadi pedoman dan ajaran yang diikuti oleh banyakmanusia, sebagai upaya untuk mendapatkan kebahagiaan. Orang beragama padadasarnya adalah untuk mendapatkan ebahagiaan. Namun bagaimana realitasnya?Banyak manusia beragama justru harus berhadapan dengan berbagai konflik. Suatukelompok masyarakat ketika mereka mementingkan agamanya, maka masyarakattersebut akan berhadapan secara diametral dengan masyarakat lain yang jugaingin menjalankan agamanya. Masyarakat muslim Palestina ketika atas nama agama,mereka mencoba mempertahankan tanah kelahirannya, harus berlawanan dengantentara Israil, yang juga atas nama agama ingin merebut tanah suci agamaYahudi. Hampir tiap hari pemuda dan remaja Palestina dengan ketapelnya, denganbatu-batu kerikil harus berhadapan dengan tentara Isarail yang membawa senjatamodern. Puluhan pemuda dan remaja Palestina menjadi korban pembantaian olehtentara Israil hampir tiap hari. Setelah kelompok Hamas memenangkan Pemilu2006, 4 tahun lalu dan memimpin pemerintahan Palestina, terjadi penghentianbantuan dana dari Amerika Serikat dan dunia barat. Di negara Palestina sendiriterjadi pertentangan dan konflik internal antara kelompok Hamas dan kelompokFatah (partai pemegang pemerintahan sebelumnya). Di Irak, dalam kepemimpinanSaddam Husein yang mengibarkan bendera ”Laa ilaaha illallah” harus menghadapikeganasan pasukan Amerika Serikat yang kemudian menghancur luluhkan negeri 1001malam itu. Setelah Saddam Husein ditangkap dan dia dili, masyarakat Irakmengalami perang saudara, yaitu kaum Sunni dan kaum Syiah, saling baku hantam.Terjadi pengeboman oleh jamaah Sunni di Masjid milik kaum Syiah dan sebaliknyadilakukan pengeboman oleh jamaah Syiah di Masjid milik kaum Sunni. Di Ambon,beberapa tahun lalu juga terjadi peperangan dengan baku tembak, salingmembunuh, dengan peralatan pedang, samurai, tombak, dan pistol rakitan antarakaum muslimin dan kaum nasrani. Konflik yang tak pernah ada habisnya jugaterjadi antara organisasi NU dan Muhammadiyah, padahal dua organisasi inisama-sama dari kelompok muslim. Barangkali di tingkat pimpinan, ada upaya untukmeredam konflik itu, namun di kalangan masyarakat bawah, masih sering merekatidak bersedia untuk duduk dalam satu forum. Dalam beberapa tahun belakanganini, kaum muslim Indonesia juga mengalami ketakutan dan kekhawatiran jikamenunjukkan identitas keislamannnya, karena distampel 2 sebagai teroris. Merekayang dicurigai teroris, akan ditangkap oleh pasukan detasemen 88 antiteror danharus melakukan serangkaian proses pemeriksaan. Dengan beragama diharapkan akanmendapatkan ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan malah yang didapatsebaliknya, ketakutan dan kecemasan. Apa yang saya uraikan merupakan realitasdi depan mata yang pada akhirnya memunculkan pernyataan yang stereotip, untukapa kita beragama jika agama justru mengantarkan kita pada peperangan,kehancuran, hilangnya kedamaian? Banyak orang akhirnya tak mau peduli terhadapajaran agamanya, cenderung bersikap pasif, cuek bahkan tak mau membawa konsepagama dalam kehidupannya, khususnya dalam masyarakat.
2. Agama Sebagai Candu Masyarakat.
Agama bagi sementara orang hanyalah tempat pelarian dari permasalahan hidup.Ketika seseorang mengalami banyak masalah seperti kemiskinan, ketidakberdayaan,kesengsaraan, maka dia akan mencari suatu kekuatan yang dianggapnya dapatmenolongnya dari permasalahan hidupnya. Kekuatan tersebut dipercaya dapatmembantunya memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Demikian anggapanyang ada pada sebagian masyarakat. Anggapan semacam ini juga didukung dandiperkuat oleh pemikiran Karl Marx (1818-1883), seorang ahli filsafat kelahiranJerman. Menurut Marx, agama sebagai candu masyarakat. Dalam pandangan Marx,agama memang pantas disebut sebagai candu masyarakat karena seperti candu, iamemberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang untuk sementara waktumelupakan masalah real hidupnya. Seorang yang sedang terbius oleh candu/opiumdengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedang dihadapinya.Ketika orang sedang masuk dalam penderitaan yang dibutuhkan tidak lain adalahcandu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup, kendati hanyasesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untukmeringankan penderitaan dalam dunia real. Pertanyaan filosofis yang diajukanMarx adalah: Mengapa masyarakat harus memiliki ilusi? Mengapa pula masyarakatmembutuhkan ilusi-ilusi religius? Bagi Marx, agama merupakan medium dari ilusisosial. Dalam agama tidak ada pendasaran yang real-obyektif bagi manusia untukmengabdi pada kekuasaan supranatural. Hal ini bisa dijelaskan dari bagaimanaagama berkembang. Agama berkembang karena diwartakan oleh masyarakat yangmempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau olehmasyarakat yang didukung oleh orangorang yang memiliki kekuasaan itu. Agamatidak berkembang karena ada kesadaran dari manusia akan pembebasan sejati,tetapi lebih karena ada keasadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapilebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yang memiliki kuasa untukmelanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukan oleh orang-orangyang memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracuni masyarakat.Karena itu, komunitas yang sefaham dengan Marx berpandangan agama hanyamenghambat kemajuan dan modernisasi. Dengan berbagai aturan, norma, dogma-dogmadan kaidah yang ada dalam ajaran agama membuat masyarakat terbelenggu,terhambat dalam produktifitas maupun kreativitasnya, dan tak bisa melakukanpeningkatan kebudayaan dan peradaban bagi perkembangan masyarakatnya. Karenaitu agama harus ditolak dan ditinggalkan.
3. Segala Yang Ada : Materi?
Keraguan tentang konsep agama sebagai pedoman hidup yang bisa membawa manusiamendapatkan kebahagiaan dan kedamaian, berlanjut pada keraguan akan Tuhan.“Sesuatu” yang menjadi pokok keyakinan orang beragama. Mereka pun meragukankeberadaan Tuhan. Segala yang ada adalah materi. Materi adalah segala sesuatuyang menempati ruang dan terpengaruh oleh waktu. Materi tersusun daripartikel-partikel yang terdalam, tidak dapat rusak, kecil, bulat, keras, yangdinamakan atom-atom. Atom-atom tersebut bukan hanya tidak pernah terjadi atom-atombaru. Ini berarti bahwa semua bentuk materi hanyalah merupakan pengelompokanbaru atom-atom tadi, sebagai semula diyakini kebenarannya, hukum kekekalanmateri (Louis O Kattsoff, Pengantar Filsafat,) Alam semesta dan manusia menurutpaham ini juga materi. Mahluk hidup sebagai materi tersusun daripartikel-partikel hidup yang disebut sel- Sel pada mahluk hidup akan mengalamikerusakan dan digantikan dengan yang baru. Itulah yang terjadi pada binatang,manusia maupun alam semesta. Materi merupakan awal dan akhir suatu kehidupan.Orang yang berfaham materialisme menganggap bahwa realitas seluruhnya adalahmateri belaka. Menurut Ludwig Feuerbach (1804-1872), hanya alamlah yang ada.Manusia adalah alamiah juga. Yang penting bagi manusia bukan akalnya, tetapiusahanya. Sebab pengetahuan hanyalah alat agar usaha manusia berhasil.Kebahagiaan manusia dapat dicapai di dunia ini. Oleh karena itu menurutnya,agama dan metafisika harus ditolak. Menurut Feuerbach, agama timbul dari sifategoisme manusia yang mendambakan kebahagiaan. Apa yang tidak ada pada manusiatetapi didambakannya, digambarkan sebagai kenyataan yang ada pada para dewa(atau Tuhan). Karena itu, Dewa (atau Tuhan) sebenarnya merupakan keinginanmanusia. (Drs A. Chairil Basori, Filsafat, 1987) Penganut faham materialisme,menganggap sebenarnya Tuhan itu tidak ada. Adanya Tuhan tak dapat dibuktikan.Mereka lebih percaya Tuhan itu tidak ada. Jika keberadaan Tuhan tidak diakui,maka secara otomatis ajaran dan kebenaran yang bersumber darinya yaitu agamapun tidak diakui. Paling tidak bagi mereka yang berpaham materialisme, menolakkeberadaan Tuhan. Akibat penolakan atas keberadaan Tuhan, mendorong penganutpaham ini bebas melakukan tindakan yang mereka sukai, tanpa rasa takut akanmendapat murka dari Tuhan.
4. Tuhan, Hasil Rekayasa Pikiran?
Pada masyarakat yang tidak mengakui dan menolak keberadaan Tuhan, jugaberpendapat bahwa adanya Tuhan pada kepercayaan orang-orang beragama, hanyalahhasil rekayasa pikiran. Manusia merupakan makhluk yang berakal, yang mampuberfikir, maka dengan pikirannya dia bisa mengadakan obyek tertentu dalam alampikirannya. Tokoh rasionalis Rene Descartes (1596-1650) menyatakan “cogito ergosum” yang artinya aku berpikir, maka aku ada. Adanya aku, sebagai manusia,nyata ada jika aku berpikir. Dan dengan berpikir, manusia bisa menjadikansegala sesuatunya menjadi “mengada”. Tuhanpun menjadi ada, dengan caradipikirkan. Jika manusia berpikir Tuhan ada, maka jadilah Dia ada. Sebaliknya,jika Tuhan tidak dipikirkan, maka Tuhan tidak ada. Dengan cara yang sama,pembaca bisa berpikir mengenai seorang wanita cantik berambut pirang, maka akanmuncul dan menjadi ada dalam alam pikiran pembaca seorang wanita cantikberambut pirang. Pun pembaca bisa berpikir mengenai seekor harimau besar berwarnaputih yang siap menerkam, maka akan muncul dan menjadi ada dalam alam pikiranpembaca, seekor harimau besar berwarna putih yang siap menerkam. Meski dalamalam nyata tak pernah ada di depan pembaca. Demikianlah, analogi yang samamereka anggap, bahwa adanya Tuhan adalah hasil rekayasa pikiran manusia.Perkembangan pemikiran manusia baik perorangan maupun masyarakat, manurutAuguste Comte (1798-1857) berlangsung dalam tiga zaman yaitu zaman teologis,metafisis dan zaman positif.
a. Zaman Teologis
Zaman dimana manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam, terdapatkuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.Pada masyarakat primitive, mereka percaya benda-benda seperti batu, pusaka,keris, dan sebagainya mempunyai kekuatan atau berjiwa (animisme), sehinggamereka begitu mengagungkan dan memuliakan benda-benda tersebut. Pada tahapselanjutnya, manusia percaya akan adanya Dewa-dewa (politheisme), sehinggamereka mengagungkan dan melakukan penyembahan terhadap Dewa-dewa tersebut,seperti Dewa Matahari, Dewa Padi, Dewa Gunung, Dewa Cinta. Dewa Pemberi Hartadan lain-lainnya. Mereka bahkan siap mengorbankan apapun agar Sang Dewa tidakmurka pada masyarakat. Selanjutnya, manusia percaya adanya satu kekuatan besar,pemimpin para Dewa atau terkumpulnya Dewa-dewa menjadi satu yaitu Tuhan yangMaha Kuasa. (monotheisme).
b. Zaman Metafisis
Kekuatan-kekuatan yang dimiliki para dewa itu, kekuatan adikodrati digantidengan kekuatan-kekuatan abstrak. Mereka percaya benda-benda di alam semestaitu menyimpan energi, yang dengan suatu cara tertentu kekuatan energinya dapatdimanfaatkan bagi kebutuhan dan kepentingan hidup masyarakat.
c. Zaman Positif
Ketika masyarakat tidak lagi berusaha mencapai pengetahuan tentang yang mutlakbaik dari sisi teologis maupun metafisis. Manusia berusaha mendapatkanhukum-hukum dari fakta-fakta yang didapatinya dengan pengamatan dan akalnya.Tujuan tertinggi dari zaman ini, akan tercapai bilamana gejala-gejala telahdapat disusun dan diatur di bawah satu fakta yang umum saja. Hukum ketiga tahapzaman tersebut tidak hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umatmanusia, tetapi juga berlaku bagi tiap perseorangan. Umpamanya sebagaikanak-kanak adalah seorang teolog, sebagai pemuda menjadi metafisikus, dansebagai orang dewasa adalah seorang fisikus. (Drs A. Chairil Basori, Filsafat,)Pada tahap positivisme, manusia telah mampu dengan akal dan pengetahuannyamengatasi setiap permasalahan. Dengan telah ditemukannya lampu listrik, mesinjahit, mesin industri, traktor dan sebagainya, maka seluruh kebutuhan hidupmanusia dapat dipenuhi dengan mempergunakan akal dan pengetahuannya. Maka padatahap ini manusia tidak lagi membutuhkan Dewa-dewa maupun Tuhan untuk membantumengatasi permasalahannya.
5. Tuhan Telah Mati?
Dengan kemampuan akal dan pengetahuannya, manusia bahkan berkeinginan untukbisa menguasai alam. Kehendak untuk berkuasa merupakan dasar dan sumber tingkahlaku manusia. Kehendak untuk berkuasa memasuki semua bidang kegiatan manusia:kesadaran hidup, perwujudan nilai-nilai agama, kebudayaan dan lain-lain.Kehendak untuk berkuasa bahkan merupakan kenyataan yang benar akan dunia ini.Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa, lain tidak. Inilah salah satu pokokpikiran Friedrich Nietzsche (1844 – 1900), tokoh filsafat yang Anti-Theisme.Menurut Nietzsche, kehendak untuk berkuasa ini nampak dalam ilmu pengetahuan.Dengan ilmu pengetahuan, manusia ingin menyelidiki dunia untuk menemukankenyataan dunia yang menjadi. Dengan ilmu, semua yang ada diubah kedalambentuk-bentuk yang pasti. Maka ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagaipenjelmaan alam menjadi konsep-konsep, dengan tujuan untuk menguasai alam.Agama juga dinyatakan sebagai perwujudan kehendak untuk berkuasa. Semua agamahakekatnya berasal dari kehendak untuk berkuasa. Karena kehendak untuk berkuasaini tidak dapat dipenuhi dengan kekuatan manusia sendiri, maka manusiamenyerahkan usahanya kepada pribadi yang lebih tinggi. Manusia lari kepadaTuhan yang Maha Kuasa, karena ia sendirian tidak dapat mengalahkan kekuatanyang dihadapinya. Bagi Nietzsche, manusia yang ideal adalah superman. Dengansuperman kehendak untuk berkuasa atas dunia menjadi sempurna. Sejarah akanmencapai kesudahannya pada kehadiran manusia superman ini. Superman adalahmanusia yang mengetahui bahwa Tuhan telah mati, bahwa tidak ada sesuatupun yangmelebihi atau mengatasi dunia ini. Superman akan muncul bila manusia telahmempunyai keberanian untuk mengubah system nilai, untuk menghancurkannilai-nilai yang ada terutama nilai-nilai lama, dan menyusun dan menggantinyadengan nilai-nilai baru yang melebihi sebelumnya. (Drs A. Chairil Basori,Filsafat,) Pernyataan yang cukup berani dari Nietzche bahwa “God is dead”(Tuhan telah mati) telah mampu membuat masyarakat yang anti Tuhan untukmelangkah dengan keyakinan diri yang penuh, untuk melakukan kreativitas yangliberal. Jika tuhan telah mati dengan segala perintah dan larngannya, makaberarti dunia sudah terbuka untuk sebuah kebebasan dan kreativitasnya.Segalanya berjalan dengan sendirinya, alam semesta bergerak dan berputarmengikuti hokum alam, tanpa campur tangan lagi dari Tuhan. Demikianlah,pemikiran yang liberal semacam ini banyak yang melanda masyarakat modern, yangmeski tidak secara terus terang, telah menganggap bahwa God is dead. Tuhantelah mati!
6. Manusia Sebagai Makhluk Pencari Kebenaran.
Namun tidak semua masyarakat mengikuti pemikiran para ahli filsafat yang antiTuhan itu. Banyak diantara mereka yang tidak pernah puas dengan penjelasan paraahli pikir dunia masa lampau. Manusia menyadari bahwa dirinya berbeda denganbinatang. Adanya akal yang melengkapi makhluk bernama manusia, membedakannyadari makhluk yang lain. Dengan akalnya manusia terus bertanya, mencari jawabanatas setiap pertanyaan. Pertanyaan yang paling mendasar adalah Siapakah aku?Dari mana aku? Hendak kemana Aku? Pertanyaan-pertanyaan ini terus mengusiknyayang membutuhkan jawaban yang memuaskan. Termasuk pertanyaan tentang Tuhan danalam semesta? Manusia ingin mengetahuinya dengan cara bertanya dan berpikir.Dengan menggunakan akalnya inilah manusia berusaha untuk menemukan jawaban ataspertanyaan yang muncul pada dirinya. Menurut Endang Syaifudin Ansori, Manusiaadalah hewan yang berpikir. Berpikir adalah bertanya. Bertanya adalah mencari jawaban.Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari kebenaran akan Tuhan, alamdan manusia. Jadi pada akhirnya : Manusia adalah makhluk pencari kebenaran.(Endang Syaefuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama,) Lalu apa itu kebenaran?Dalam dunia ilmu pengetahuan, kebenaran adalah kebenaran ilmiah, suatupengetahuan yang jelas dari suatu obyek materi yang dicapai menurut obyek forma(cara pandang) tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatusystem yang relevan. Pengetahuan demikian ini tahan uji baik dari verifikasiempiris maupun yang rasional. Dalam pembahasan tentang teori kebenaran, Endangmengemukakan tiga teori yaitu teori korespondensi, teori konsistensi dan teoripragmatis. Uraian tiga teori itu dijelaskan sebagai berikut.
a. Teori korespondensi (coorespondence theory)
Adalah kebenaran atau keadaan benar itu berupa kesesuaian (correspondence)antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakanhalnya atau faktanya. Menurut teori korespondensi, suatu pernyataan dianggapbenar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu adalahberkorespondens (bersesuaian) dengan obyek yang dituju oleh pernyataantersebut. Dengan kata lain, kebenaran itu adalah suatu pernyataan yang sesuaidengan kenyataan (fakta), tanpa memperhatikan idea atau pikiran. Contohnya “diluar rumah udaranya dingin”, pernyataan ini benar jika faktanya ketika kitakeluar rumah memang udaranya dingin.
b. Teori konsistensi (consistence theory)
Teori ini disebut pula coherence, adalah kebenaran, tidak dibentuk atashubungan antar putusan (gudgement) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta ataurealitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Atau secarasederhana dapat dikatakan nahwa menurut teori konsistensi, suatu pernyataandianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten atau koheren denganpernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar, tanpa mempedulikanfakta yang ada. Contohnya, “murid MTS pangandaran pintar-pintar” adalah pernyataan awal (terdahulu)yang benar. “Dani adalah murid yang pintar”, pernyataan ini dianggap benar jikaDani adalah murid MTS pangandaran .Dasar pembenaran pernyataan “Dani murid yang pintar” karena koheren dengan pernyataansebelumnya, “murid MTS pangandaran pintar-pintar”.
c. Teori pragmatis (pragmatic theory)
Suatu proposisi adalah benar sepanjang proposisi itu berlaku, atau memuaskan.Menurut teori pragmatis, kebenaran bergantung kepada kondisi-kondisi yangberupa manfaat (utility), kemungkinan dapat dikerjakan (workability) dankonsekuensi yang memuaskan (satisfactory results). Dengan perkataan yang lebihsederhana, sesuatu dianggap benar jika itu mempunyai manfaat fungsional ataumenguntungkan dalam kehidupan praktis. Contohnya, pernyataan “system komputerisasikantor adalah baik”. Pernyataan tersebut benar karena penggunaan computer dikantor-kantor sangat membantu proses (memper mudah dan mempercepat kerja)kegiatan di kantor. Ketiga teori ini meski tidak seluruhnya tepat, namun yangpaling mendekati adalah teori korespondensi, dimana pernyataan bisa dikatakanbenar jika faktanya sesuai dengan pernyataan. Bagaimana manusia dalam upayamencari kebenaran? Jika permasalahan yang dipertanyakan menyangkutmasalah-masalah idea, filsafat atau metafisika maka sulit untuk bisa memperolehjawaban sebagai kebenaran. Siapa aku sebenarnya? Untuk apa aku hidup? Kemanaaku nantinya? Benarkah Tuhan itu ada? Bagaimana membuktikannya? Mencari jawabanatas pertanyaan tersebut sangatlah sulit, demikianlah untuk menemukan kebenarantentang permasalahan yang essensial dalam kehidupan manusia tidaklah bisadicapai dengan teori-teori diatas.
7. Mencari Kebenaran Dengan Metodologi Ilmiah
Bagaimana cara kita mendapatkan suatu kebenaran. Dalam dunia ilmu pengetahuan,kita mengenal apa yang dinamakan metodologi ilmiah. Metode ilmiah adalah sebuahcara untuk mencari sebuah kebenaran. Kebenaran ilmiah ini harus memenuhipersyaratan empiris, obyektif, rasional, dan sistematis. Empiris berarti suatukebenaran berdasarkan pengalaman yang dapat ditangkap dengan pancaindra.Pengetahuan tersebut berasal dari pengalaman manusia, dari dunia luar yangditangkap dengan pancaindranya. Sehingga kebenaran tersebut dapat jugadiketahui oleh orang lain sebagai kebenaran yang dapat ditangkap dengan pancaindranyapula. Misalnya kebenaran mengenai air yang dipanaskan dalam suhu 100 derajatcelcius akan mendidih. Ini merupakan kebenaran yang berdasarkanpengalaman-pengalaman yang pernah dijalani manusia, maka terhadap hal tersebutsecara empiris manusia lainpun akan menemui hal yang sama. Obyektif berartisuatu kebenaran harus mengandung nilai obyektifitas, berdasarkan fakta yangmenjadi obyek pengetahuan, bukan berdasarkan yang menilai atau yang mengamati(subyek-nya). Sebuah kebenaran harus dapat dibuktikan oleh orang lain dan akanmemperoleh pengetahuan yang sama. Misalnya air akan bergerak mengalir padatempat yang lebih rendah atau menurun. Kebenaran demikian dapat dibuktikanorang lain dan diperoleh pengetahuan yang sama pula. Rasional berarti kebenarantersebut bersumber dari akal (rasio) atau pikiran manusia, dimanapengalaman-pengalaman hanya sebagai perangsang bagi pikiran. Kebenaran demikianmerupakan kesimpulan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan menjadipengetahuan dalam akal manusia. Bahkan tanpa perlu pembuktianpun, kebenaran itutak terbantahkan. Misal, pernyataan garis lurus merupakan jarak terdekatdiantara dua buah titik, maka kita mau tidak mau harus mengakui kebenaranpernyataan tersebut. Sistematis berarti berurutan, yakni dalam menemukankebenaran harus melalui proses yang berurutan. Dalam suatu penelitian ilmiah,sistematis itu bila dilakukan melalui tahapan-tahapan memilih dan merumuskanmasalah, menyusun latar belakang teoritis, menetapkan hipotesis, menetapkanvariable, memilih alat pengump[ulan data, menyusun rancangan penelitian,menentukan sample, menyimpulkan dan menyajikan data, mengolah dan menganalisisdata, menginterpretasi hasil analisis dan mengambil kesimpulan, menyusunlaporan dan mengemukakan implikasi. Untuk menghasilkan sebuah kebenaran ilmiahjuga harus didukung dengan berpikir dan bersikap ilmiah yaitu dengan tahapanskeptis, analitis, dan kritis. Skeptis adalah upaya untuk selalu menanyakanbukti-bukti atau fakta-fakta terhadap setiap pernyataan. Analitis adalahkegiatan untuk selalu menimbang-nimbang setiap permasalahan yang dihadapinya,mana yang relevan, mana yang menjadi masalah utama dan sebagainya. Kritisadalah berupaya untuk mengembangkan kemampuan menimbangnya selalu obyektif.Untuk ini maka dituntut agar data dan pola berpikirnya selalu logis.
8. Asal Usul Kehidupan
Untuk mengetahui realitas kehidupan manusia dan alam semesta, pertanyaan yangmuncul mengemuka adalah bagaimana awal mula kehidupan di dunia ini. Siapakahyang menciptakan alam semesta dan bagaimana proses penciptaannya? Dalam bukupelajaran Biologi Kelas III di SMA, kita dapatkan penjelasan mengenai asal-usulkehidupan. Bagi mereka yang sempat duduk di bangku SMA Jurusan IPA/Biologi,tentu pernah mendapatkan sub materi pelajaran Asal Usul Kehidupan ini. Adabeberapa teori yang dikemukakan yaitu teori-teori abgiogenesis, biogenesis,kosmozaik, evolusi kimia dan evolusi biologi.
a. Teori Abiogenesis
Menurut teori Abiogenesis, kehidupan berasal dari materi yang tidak hidup ataubenda mati dan terjadi begitu saja (spontan). Itulah sebabnya, teori inidinamakan pula teori generatio spontanea. Teori abiogenesis ini dikemukakanpertama kali oleh Aristoteles (334 – 332 SM), seorang filsuf dan ilmuwan YunaniKuno. Teori ini bertahan ratusan tahun. Munculnya teori ini didasarkan padapengamatan sederhana terhadap apa yang mereka lihat di sekelilingnya tanpadidukung oleh peralatan yang memadai. Sebagai contoh, karena cacing berada didalam tanah, maka cacing berasal dari tanah. Dengan alasan yang sama, merekamenganggap katak berasal dari Lumpur, belatung berasal dari daging yangmembusuk, dan sebagainya. Pada abad 17, Antonie van Leeuwenhoek menemukanmikroskop. Penemuan mikroskop ini membuka cakrawala baru bagi dunia sains.Namun bagi para pendukung teori abiogenesis, adanya makhluk hidup kecil yangmereka lihat melalui mikroskop makin memperkuat mereka tentang teoriabiogenesis tersebut.
b. Teori Biogenesis
Teori biogenesis merupakan lawan dari teori abiogenesis. Teori ini menyatakanbahwa makhluk hidup berasal dari makhluk hidup pula. Teori biogenesis mendapatdukungan dari Francesco Redi (1626 – 1697), Lazzaro Spallanzani (1727 -1799)dan Louis Pasteur (1822 -1895). Ketiganya melakukan percobaan untuk membuktikanteori biogenesis. Francesco Redi mengadakan serangkaian percobaan dengan bahandaging yang dimasukkan ke delapan stoples dengan kondisi yang berbeda-beda.Setelah beberapa hari di dalam stoples yang terbuka, Redi mendapatkan larva,sedangkan di dalam stoples yang tertutup tidak terdapat larva Berdasarkanpercobaan ini, Redi berkesimpulan bahwa larva bukan berasal dari daging,melainkan berasal dari telur lalat yang disimpan dalam daging. LazzaroSpallanzani juga melakukan percobaan dengan menggunakan dua tipe medium denganprinsip yang sama dengan Redi, tetapi dengan rancangan yang lebih sempurna.Berdasarkan hasil percobaan Spallanzani, ditemukan kenyataan bahwa udaramemberi pengaruh besar terhadap terbentuknya kekeruhan pada air kaldu,membuatpara pendukung abiogenesis menolak hasil percobaan spallanzani. Merekamenganggap udara mempunyai daya hidup (vital force) yang dapat memicuterbentuknya kehidupan. Konsep tentang adanya daya hidup yang diyakinipendukung teori abiogenesis membuat Louis Pasteur berpikir bagaimana merancangpercobaan yang memungkinkan udara (daya hidup) tetap dpat berhubungan denganlabu tetapi tidak mempengaruhi isi labu. Hasil percobaan Pasteur menunjangteori biogenesis dan sekaligus menumbangkan teori abiogenesis. Teori biogenesisdapat dirumuskan dalam postulat berikut ini. Omne vivum ex ovo yang berartimakhluk hidup berasal dari telur, omne ovum ex vivo yang berarti telur berasaldari makhluk hidup, dan omne vivum ex vivo berarti makhluk hidup berasal darimakhluk hidup sebelumnya.
c. Teori Kosmozoik
Teori ini dikemukakan oleh Richter (1865) dan didukung oleh Thompson, Helmholtzdan Van Tieghan. Menurut teori ini, benda-benda langit yang panas berpijar padabagian permukaannnya saja. Bagian-Bagian dalamnya tetap dingin sehingga embriosuatu organisme yang menempati bagian dalamnya tetap hidup. Selanjutnya,organisme-organisme menyebar sampai ke bumi dan tumbuh subur di bumi. Kemudianorganisme-organisme ini berkembang dan berevolusi hingga menghasilkan seluruhspesies yang ada sekarang ini.
d. Teori Evolusi Kimia
Menurut salah satu teori, system tata surya (solar system) terbentuk dari kabutgas di angkasa. Gaya gravitasi yang timbul menyebabkan terjadinya kontraksisehingga menaikkan suhu pusat massa. Kontraksi ini menyebabkan terbentuknyasuatu bintang baru (matahari). Bintang ini dikelilingi lingkaran gas dan debuyang merupakan asal mula terbentuknya planet-planet. Meteorit terbentuk sekitar4550 juta tahun yang lalu; bulan 4600 juta tahun yang lalu dan bumi 4550 jutatahun yang lalu, membuktikan bahwa system tata surya berumur kira-kira 5000juta tahun atau 5 milyar tahun. Kondisi bumi pada awal pembentukan sangatberbeda dengan keadaan sekarang. Pada saat itu, suhu permukaan bumi antara4000-8000 derajat celcius. Sewaktu permukaan bumi mulai dingin, senyawa-senyawakarbon dan unsure logam membentuk lapisan bumi bagian dalam (mantel), tersusundari batuan yang mencair dan terdiri atas senyawa silicon, aluminium, besi dansebagainya. Para ilmuwan berpendapat bahwa pada saat itu di atmosfer terkumpulgas-gas ringan, seperti hydrogen (H2), helium (He), argon (Ar), nitrogen (N),dan oksigen(O2). Akibatnya, di atmosfer terbentuk senyawa-senyawa yangmengandung unsure-unsur ringan, misalnya uap air (H2O), karbon dioksida (CO2),metana (CH4), dan ammonia (NH3). Pada saat suhu atmosfer turun menjadi sekita100 derajat Celcius, terjadi hujan air mendidih selama beberapa ribu tahun.Pada kondisi seperti ini, kehidupan di bumi tidak mungkin terbentuk, tetapisangat memungkinkan terjadi reaksi-reaksi kimia karena tersedianya materi danenergi yang berlimpah.
e. Teori Evolusi Biologi
A.I. Oparin dalam bukunya Asal Mula Terjadinya Kehidupan (The Origin of Life),mengemukakan bahwa asal mula kehidupan terjadi di lautan melalui pembentukansenyawa-senyawa organic dari senyawa-senyawa sederhana seperti H2O, CO2, CH4,NH3 dan H2, yang memang berlimpah pada saat itu. Pembentukan senyawa organicini dibantu oleh energi radiasi benda-benda angkasa yang juga sangat intensifpada saat itu. Senyawa kompleks pertama diduga semacam alkohol dan asam aminoyang selama jutaan tahun senyawa-senyawa ini bereaksi membentuk senyawa yanglebih kompleks, seperti asam organic, purin dan pirimidin. Senyawa-senyawa inimerupakan bahan pembentuk sel.
9. Evolusi Menurut Darwin
Charles Robert Darwin seorang biolog Inggris mengemukakan teori evolusinyamelalui buku yang berjudul The Origin of Species by Means of Natural Selection(Asal Mula terjadinya Spesies melalui Seleksi Alam) pada tahun 1859. dalam bukutersebut Darwin menyatakan bahwa semua makhluk hidup memiliki leluhur yang samadan bahwa mereka berkembang satu sama lain dengan cara seleksi alamiah. Merekayang terbaik dalam beradaptasi dengan lingkungan mewariskan perilaku mereka kegenerasi berikutnya, dan lambat laun, sifat-sifat yang menguntungkan inimengubah individuindividu menjadi spesies yang berbeda total dari leluhurmereka. Dengan demikian, manusia ialah produk yang paling maju dari mekanismeseleksi alamiah ini. Singkatnya, suatu spesies berasal dari spesies lain. Duateori evolusi pokok yang terkandung dalam buku tersebut adalah sebagai berikut(a) Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup di masa lampau.Dan (b) Evolusi terjadi melalui seleksi alam. Ahli evolusi lain, Alfred R.Wallace (1823-1913) ternyata mempunyai pemikiran yang sama dengan pemikiranDarwin, meskipun diantara mereka tidak saling mengenal. Pemikiran merekadisajikan bersama dalam pertemuan antar ilmuwan di London yang tergabung dalamLinneon Society of London pada tanggal 1 Juli 1858. Sejak saat itu teorievolusi Darwin didukung oleh banyak ilmuwan di dunia.Menurut teori evolusiDarwin, manusia merupakan hasil proses evolusi dari spesies lain yang hiduplebih dahulu yaitu kera. Dalam perkembangan selanjutnya, oleh para pendukungteori evolusi ini dengan mengemukakan teori neo-Darwinisme. Menurut teori inispesies berkembang sebagai hasil dari mutasi-mutasi, perubahan-perubahan kecildalam gen mereka, dan yang paling sesuailah yang bertahan hidup melaluimekanisme seleksi alam. Selanjutnya mereka juga mengembangkan teori punctuatedequilibrium (keseimbangan bersela) yang menyatakan bahwa makhluk hiduptiba-tiba berkembang menjadi spesies lain, meski tanpa bentuk transisinya.Dengan kata lain, spesies tanpa ‘nenek moyang’ evolusioner tiba-tiba muncul. Menurutteori evolusi, manusia dan kera modern mempunyai leluhur yang sama.Makhl-makhluk ini berkembang seiring dengan waktu dan beberapa diantara merekamenjadi kera-kera masa kini, sedangkan sekelompok lain yang mengikuti cabangevolusi lain menjadi manusia manusia masa kini. Para evolusionis menyebut‘leluhur bersama’ pertama manusia dan kera ini ‘Australopithecus’ yang berarti‘Kera Afrika Selatan’. Terdapat berbagai jenis Australopithecus, yang hanyaspesies kera lama yang telah menjadi berbeda. Sebagiannya tegap, sementara yanglainnya kecil dan rapuh. Para evolusionis menggolongkan tahap evolusi manusiaberikutnya sebagai ‘Homo’, yakni ‘manusia’. Menurut klain evolusionis, makhlukhidup dalam tahap ‘homo’ ini lebih berkembang dari pada Australpithecus, dantidak banyak berbeda dari manusia modern. Manusia modern masa kini, Homosapiens, konon terbentuk pada tahap terakhir evolusi spesies ini. (Harun Yahya,Allah is Known Through Reason, 58-59) 10. Dimanakah Tuhan? Dalam uraianmengenai teori-teori pengetahuan dan hasil dari penelitian sains diatas, belumada yang bisa tuntas membahas dan membuktikan adanya Tuhan. Dimanakah Tuhan?Tak ada ilmuwan yang mampu menjawab pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan danmemberikan bukti-bukti secara ilmiah.

22 Agustus 2012 pukul 23:38 · Publik
2.325 orang menyukai ini.
Daniz Whinchester
Atheisme
bukan kepercayaan yang harus diimani begitu saja. Atheisme adalah
keyakinan seperti keyakinan ilmiah yang harus ditemukan sendiri.
Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.
Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.
Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.Saya menjadi atheis bukan karena keluarga, bukan karena teman. Saya menjadi atheis melalui pergulatan panjang mencari Tuhan.
Saya dilahirkan dari keluarga Islam lengkap dengan azan di telinga ketika saya baru saja dilahirkan. Saya belajar membaca Al-Quran sedari kecil, ikut pengajian di musala, puasa, tarawih, layaknya anak-anak dari keluarga muslim lainnya.Orang tua saya, keduanya muslim yang taat dan sangat tolerans dan sangat mendorong kebebasan berekspresi serta mendorong saya untuk mencintai membaca juga dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan.
Berangkat dewasa, mulai sejak kira-kira usia SMP, masih rajin sholat, saya mulai mempertanyakan Tuhan. Belajar Pancasila di sekolah, yang lebih mirip indoktrinasi daripada diskusi megenai ideologi dan filsafat dengan bapak dan ibu saya, saya mulai penasaran dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa ada banyak Tuhan? Jika semuanya adalah Tuhan yang sama mengapa aturan, tuntunan dan tuntutannya berbeda.Dari situ saya mempelajari praktis semua agama yang ada di Indonesia, mulai tentang romo, pedanda, biksu, dan pendeta, ustad dan kyai. Masih pula saya tidak menemukan jawaban atas salah satu pertanyaan saya: Agama apa yang paling bisa mengantar penganutnya pada Tuhan.
Kemudian saya menemukan bahwa pertanyaan tersebut salah, karena jawaban yang tersedia adalah:
- Semua agama sama baiknya
- Ikuti kata hatimu sendiri
Pencarian saya mengenai semua agama sama baiknya berujung pada dilema, seperti semua kecap adalah kecap no. 1, berarti semua agama sama buruknya. Agama A mengatakan A-lah agama paling baik, dan agama B buruk. Sebaliknya agama B mengatakan hal yang sama mengenai dirinya sendiri, dan mengkatagorikan agama A
sebagai agama yang tak baik. Jika ada 1.000 agama di dunia, memilih
salah satu berarti berharap 1 surga, tetapi bersiap masuk 999 neraka
agama lain yang disiapkan bagi orang ‘kafir’.
Pencarian saya pada tokoh-tokoh agama berpikiran luas mengantarkan saya pada kata-kata bijak, “Agama itu seperti makanan, ya, makanan jiwa, pilih yang sesuai selera, dan sreg. Walaupun katanya bergizi, tapi kalau makannya terpaksa, ya juga nggak akan enak dan nggak akan membawa manfaat buat kamu.”Perjalana n
pencarian saya atas Tuhan juga membawa saya pada beberapa orang atheis
yang sama sekali tidak menganjurkan saya menjadi atheis. Semua atheis
yang saya jumpai mengatakan, kurang lebih, “Ikuti akal budimu, sergaplah
ilmu pegetahuan, pelajari sejarah peradaban manusia.”
Atheis yang baik, menurut mereka, bukanlah seorang pendakwah yang mencari sebanyak-banyak nya pengikut, tetapi orang-orang yang mendasari moralitasnya pada akal budi manusia serta mengakui segala keterbatasannya .
Atheisme bukanlah sebuah keyakinan yang menurun dalam keluarga, boleh
jadi bukanlah sesuatu yang mudah diajarkan. Atheisme, adalah sebuah
hasil pencarian seseorang yang bersifat personal. Seorang atheis yang
baik adalah mereka yang cukup berani mempertanyakan segala sesuatu dan
giat bekerja serta belajar untuk mencari jawabnya. Seorang atheis yang
baik tidak bisa yakin sebelum meragukan sesuatu terlebih dahulu. Seorang
atheis tidak boleh gemar mencontek karena malas mencari jawaban.
Seorang atheis yang baik tidak boleh menjadi atheis karena dipengaruhi
orang lain. Dengan kata lain atheisme hanya bisa ditemukan dan dialami
sendiri. Seorang atheis yang baik tidak akan mendorong apalagi membujuk
orang lain untuk jadi atheis, tetapi membiarkannya tumbuh dalam
pencarian.
Pencarian saya berakhir pada atheisme. Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada, dan hanya ada kemungkinan kecil sekali Tuhan (beserta neraka dan surganya) ada. Tuhan mungkin saja ada, karena sangatlah tidak ilmiah mengatakan Tuhan pasti tidak ada, toh ilmuwan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan, walaupun tidak ada pula orang yang pernah membuktikan kehadiran Tuhan. Russell memberi analogi yang baik mengenai poci teh (teapot) yang mengorbit antara bumi dan Mars.
Saya sampai pada pencarian saya, bagaimana sejarah peradaban manusia memelihara kerinduan manusia akan adanya kepastian, kebutuhan sosok imajiner yang Maha Adil, Maha Kasih, Maha Kuasa, dan bagaimana manusia berangsur-angsu r menciptakan sosok Tuhannya, membunuhnya atau meninggalkannya , lalu menciptakan sosok Tuhan baru.
Sampai akal budi dan pengetahuan manusia cukup berani mengakui keterbatasannya , dan mengatakan, “Cuma itu yang kita punya, berterimakasihl ah
pada kita sendiri.” Memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa tapi juga pada saat
yang sama bersusah payah menyembunyikan diriNya sendiri tidak membantu
manusia dalam cara apapun, kapanpun, dan di manapun, kecuali untuk
menenangkan hati sendiri akan adanya kepastian mutlak dan harapan akan
hadirnya keadilan sejati di alam lain.
Saya tidak memusuhi agama dan orang-orang beragama atau berTuhan. Tidak seperti orang-orang beragama yang memusuhi orang-orang tak bertuhan. Saya tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang atheis (di Indonesia khususnya) yang masih dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat untuk bebas dari ketakutan dan tekanan.
Saya sadar bahwa orang bermacam ragam. Ada yang masih perlu Tuhan, dan ada yang tidak perlu Tuhan. Saya adalah tipe orang kedua. Kalau saya berbuat baik, bukan hidup abadi di surga yang saya harapkan, tapi karena saya tahu bahwa perbuatan itu harus saya lakukan. Kalau saya tidak berbuat jahat, bukan siksa neraka yang saya takutkan, cukup karena saya tahu perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan.
Menjadi seorang atheis, di Indonesia, adalah perjalanan yang melelahkan, berat, dan berliku. Dilihat dari pengalaman saya, jauh lebih sukar daripada menjadi seorang yang beragama.
Atheisme nyaman bagi diri saya, melegakan batin saya, tetapi sulit berhadapan dengan tekanan sosial di Indonesia.
Orang masih memicingkan mata pada atheisme, menganggap atheis sebagai orang paling hina di muka bumi. Atheis dianggap sebagai sumber kekejian dan kebejatan moral.
Atheis bukanlah orang tanpa etika dan moral, hanya saja atheisme tidak mendasarkan moralitas dan etikanya pada ajaran Tuhan, melainkan pada akal budi manusia. Saya kira bukan tempatnya di sini untuk memberi penjelasan apa itu atheisme.Saya menjadi atheis bukan karena keluarga, bukan karena teman. Saya menjadi atheis melalui pergulatan panjang mencari Tuhan.
Saya dilahirkan dari keluarga Islam lengkap dengan azan di telinga ketika saya baru saja dilahirkan. Saya belajar membaca Al-Quran sedari kecil, ikut pengajian di musala, puasa, tarawih, layaknya anak-anak dari keluarga muslim lainnya.Orang tua saya, keduanya muslim yang taat dan sangat tolerans dan sangat mendorong kebebasan berekspresi serta mendorong saya untuk mencintai membaca juga dekat dengan sains dan ilmu pengetahuan.
Berangkat dewasa, mulai sejak kira-kira usia SMP, masih rajin sholat, saya mulai mempertanyakan Tuhan. Belajar Pancasila di sekolah, yang lebih mirip indoktrinasi daripada diskusi megenai ideologi dan filsafat dengan bapak dan ibu saya, saya mulai penasaran dengan Ketuhanan Yang Maha Esa dan Bhinneka Tunggal Ika. Mengapa ada banyak Tuhan? Jika semuanya adalah Tuhan yang sama mengapa aturan, tuntunan dan tuntutannya berbeda.Dari situ saya mempelajari praktis semua agama yang ada di Indonesia, mulai tentang romo, pedanda, biksu, dan pendeta, ustad dan kyai. Masih pula saya tidak menemukan jawaban atas salah satu pertanyaan saya: Agama apa yang paling bisa mengantar penganutnya pada Tuhan.
Kemudian saya menemukan bahwa pertanyaan tersebut salah, karena jawaban yang tersedia adalah:
- Semua agama sama baiknya
- Ikuti kata hatimu sendiri
Pencarian saya mengenai semua agama sama baiknya berujung pada dilema, seperti semua kecap adalah kecap no. 1, berarti semua agama sama buruknya. Agama A mengatakan A-lah agama paling baik, dan agama B buruk. Sebaliknya agama B mengatakan hal yang sama mengenai dirinya sendiri, dan mengkatagorikan
Pencarian saya pada tokoh-tokoh agama berpikiran luas mengantarkan saya pada kata-kata bijak, “Agama itu seperti makanan, ya, makanan jiwa, pilih yang sesuai selera, dan sreg. Walaupun katanya bergizi, tapi kalau makannya terpaksa, ya juga nggak akan enak dan nggak akan membawa manfaat buat kamu.”Perjalana
Atheis yang baik, menurut mereka, bukanlah seorang pendakwah yang mencari sebanyak-banyak
Pencarian saya berakhir pada atheisme. Saya sangat yakin bahwa Tuhan tidak ada, dan hanya ada kemungkinan kecil sekali Tuhan (beserta neraka dan surganya) ada. Tuhan mungkin saja ada, karena sangatlah tidak ilmiah mengatakan Tuhan pasti tidak ada, toh ilmuwan tidak bisa membuktikan ketiadaan Tuhan, walaupun tidak ada pula orang yang pernah membuktikan kehadiran Tuhan. Russell memberi analogi yang baik mengenai poci teh (teapot) yang mengorbit antara bumi dan Mars.
Saya sampai pada pencarian saya, bagaimana sejarah peradaban manusia memelihara kerinduan manusia akan adanya kepastian, kebutuhan sosok imajiner yang Maha Adil, Maha Kasih, Maha Kuasa, dan bagaimana manusia berangsur-angsu
Sampai akal budi dan pengetahuan manusia cukup berani mengakui keterbatasannya
Saya tidak memusuhi agama dan orang-orang beragama atau berTuhan. Tidak seperti orang-orang beragama yang memusuhi orang-orang tak bertuhan. Saya tidak ingin menyadarkan orang-orang beragama untuk meninggalkan Tuhannya. Saya hanya ingin orang-orang atheis (di Indonesia khususnya) yang masih dalam ketakutan atau tekanan sosial yang berat untuk bebas dari ketakutan dan tekanan.
Saya sadar bahwa orang bermacam ragam. Ada yang masih perlu Tuhan, dan ada yang tidak perlu Tuhan. Saya adalah tipe orang kedua. Kalau saya berbuat baik, bukan hidup abadi di surga yang saya harapkan, tapi karena saya tahu bahwa perbuatan itu harus saya lakukan. Kalau saya tidak berbuat jahat, bukan siksa neraka yang saya takutkan, cukup karena saya tahu perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan.
Menjadi seorang atheis, di Indonesia, adalah perjalanan yang melelahkan, berat, dan berliku. Dilihat dari pengalaman saya, jauh lebih sukar daripada menjadi seorang yang beragama.
一一
wah..seru…tapi kok salah arah dek..
pernah baca buku sapa aja tentang ketuhanan??
dari situ nanti kita coba bedah..
soalnya saya pernah atheis selama 2 tahun..dan saya menemukan Tuhan saya..
coba kita bedah..
pernah baca buku sapa aja tentang ketuhanan??
dari situ nanti kita coba bedah..
soalnya saya pernah atheis selama 2 tahun..dan saya menemukan Tuhan saya..
coba kita bedah..
Daniz Whinchester
Salah arah kan tergantung maunya ke mana. Kalau maunya ke utara tapi jalan ke selatan, ya itu salah arah.
Kalau maunya pergi ke mana pikiran menuntun, dan tiba di atheisme, ya tidak salah arah dong. Setidaknya menurut saya.
Buku apa saja yang saya baca tentang ketuhanan? Banyak sekali, misalnya buku teks PMP SD dari kelas 1 sampai SMP terbitan P&K. Lalu Dari google seperti filsafat mulai dari Yunani klasik, filsafat Eropa abad pertengahan sampai modern (ada sekitar 160-an buku filsafat, bahkan yang membahas materialisme sekalipun sebetulnya juga membahas ketuhanan, yang masih tersimpan di perpustakaan pribadi), filsafat Arab, Ommar Khayam, Jalaludin Rumi, Ali Shariati, Murtadha Muthahari, tentunya selain kitab suci Al-Quran, Injil (beberapa versi), Tripitaka, Weda, dan Bhagavad Gita, buku mengenai Sidarta Budha yang ditulis Herman Hesse, dan lain-lain. Selain itu, juga buku-buku sains dan ilmu pengetahuan, mulai dari buku “Matematika” untuk kelas 1 SD sampai kelas 2 smp, kalkulus, matematika lanjut, dan seterusnya, selain buku-buku fisika, mulai dari buku IPA SD terbitan P&K sampai Quantum Electrodynamic- nya Feynman, . Di biologi juga, mulai dari IPA SD, biologi SMP, Darwin, Watson & Crick, Dawkins dan seterusnya.
Di luar itu juga saya menggemari sejarah. Jadi minimal baca Toynbee, Hobsbawn, Russel, bahkan Chomsky atau Naomi Klein, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin saya tuliskan buku apa saja tentang ketuhanan.
Karena dalam konsep Anda, Tuhan adalah segala sesuatu toh? Ya itu semua kalau mau Anda kategorikan sebagai buku tentang ketuhanan. Buat saya ya itu buku pengetahuan, bagian dari sejarah peradaban manusia.
Selamat kepada Anda, jika pencarian Anda membawa Anda kepada penemuan Tuhan.
Saya berangkat dengan mencari Tuhan yang saya kenal sejak masa balita, tetapi semakin saya mencari dalam diri, di luar diri, semakin saya yakin–sebagai sesuatu keyakinan ilmiah–bahwa Tuhan itu tidak ada.
Kalau maunya pergi ke mana pikiran menuntun, dan tiba di atheisme, ya tidak salah arah dong. Setidaknya menurut saya.
Buku apa saja yang saya baca tentang ketuhanan? Banyak sekali, misalnya buku teks PMP SD dari kelas 1 sampai SMP terbitan P&K. Lalu Dari google seperti filsafat mulai dari Yunani klasik, filsafat Eropa abad pertengahan sampai modern (ada sekitar 160-an buku filsafat, bahkan yang membahas materialisme sekalipun sebetulnya juga membahas ketuhanan, yang masih tersimpan di perpustakaan pribadi), filsafat Arab, Ommar Khayam, Jalaludin Rumi, Ali Shariati, Murtadha Muthahari, tentunya selain kitab suci Al-Quran, Injil (beberapa versi), Tripitaka, Weda, dan Bhagavad Gita, buku mengenai Sidarta Budha yang ditulis Herman Hesse, dan lain-lain. Selain itu, juga buku-buku sains dan ilmu pengetahuan, mulai dari buku “Matematika” untuk kelas 1 SD sampai kelas 2 smp, kalkulus, matematika lanjut, dan seterusnya, selain buku-buku fisika, mulai dari buku IPA SD terbitan P&K sampai Quantum Electrodynamic-
Di luar itu juga saya menggemari sejarah. Jadi minimal baca Toynbee, Hobsbawn, Russel, bahkan Chomsky atau Naomi Klein, dan lain-lain. Jadi tidak mungkin saya tuliskan buku apa saja tentang ketuhanan.
Karena dalam konsep Anda, Tuhan adalah segala sesuatu toh? Ya itu semua kalau mau Anda kategorikan sebagai buku tentang ketuhanan. Buat saya ya itu buku pengetahuan, bagian dari sejarah peradaban manusia.
Selamat kepada Anda, jika pencarian Anda membawa Anda kepada penemuan Tuhan.
Saya berangkat dengan mencari Tuhan yang saya kenal sejak masa balita, tetapi semakin saya mencari dalam diri, di luar diri, semakin saya yakin–sebagai sesuatu keyakinan ilmiah–bahwa Tuhan itu tidak ada.
一一
hehehehe.. seneng saya dengan orang yang punya pemikiran kayak gini..
jadi teringat dimasa-masa saya atheis..tekanan sosial…wah dua tahun saya diterjang hal seprti itu..
dan ketika saya debat tentang ketuhanan dengan memakai logika orang2 yang anda sebutkan dengan mereka yang mengatakan bertuhan saya juga selalu menang kok..karena memang pada dasarnay kita dan semua yang bertuhan hanya mengikuti agama orang tua pada saat lahirnya..jadi ketika ha itu dipikirkan secara mendalam tanoa basic yang kuta.. pasti dan pasti sekali akan jadi atheis (seperti saya 3 tahun yang lalu)
tapi saya tertampar dengan hal ini
1. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30)
Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan.
Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.
Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq”. Keduanya lalu terpisah (”fataqa” satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta.
Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini.
Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.
Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemu an ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.
2. Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:3
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur’an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.
3. ia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)
Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.
Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.
Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.
3. Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan” yang dimiliki langit.
“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11)
Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan” .
Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan
ini memiliki fungsi mengembalikan benda-benda atau sinar yang mereka
terima ke ruang angkasa atau ke arah bawah, yakni ke bumi. Sekarang,
marilah kita cermati sejumlah contoh fungsi “pengembalian” dari
lapisan-lapisan yang mengelilingi bumi tersebut.
Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.
Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partik el radioaktif berbahaya yang dipancarkan Matahari dan bintang-bintang lainnya ke ruang angkasa sebelum sampai ke Bumi.
Sifat lapisan-lapisan
langit yang hanya dapat ditemukan secara ilmiah di masa kini tersebut,
telah dinyatakan berabad-abad lalu dalam Al Qur’an. Ini sekali lagi
membuktikan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah.
sorry ini menurut agama saya..kalo tidak berkenan silahkan didelete informasi yang saya berikan diatas..
dan saya menemukan keilmiahan antara teori yang di berikan pada manusia abad ke 7 (nabi saya Muhamad SAW) dapat dijelaskan secara ilmiah pada abad ke 20
mana yang bukan ilmiah??
jadi teringat dimasa-masa saya atheis..tekanan
dan ketika saya debat tentang ketuhanan dengan memakai logika orang2 yang anda sebutkan dengan mereka yang mengatakan bertuhan saya juga selalu menang kok..karena memang pada dasarnay kita dan semua yang bertuhan hanya mengikuti agama orang tua pada saat lahirnya..jadi ketika ha itu dipikirkan secara mendalam tanoa basic yang kuta.. pasti dan pasti sekali akan jadi atheis (seperti saya 3 tahun yang lalu)
tapi saya tertampar dengan hal ini
1. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al Qur’an, 21:30)
Kata “ratq” yang di sini diterjemahkan sebagai “suatu yang padu” digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan.
Ungkapan “Kami pisahkan antara keduanya” adalah terjemahan kata Arab “fataqa”, dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari “ratq”. Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.
Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat “fatq”. Keduanya lalu terpisah (”fataqa” satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta.
Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk “langit dan bumi” yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan “ratq” ini.
Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk “fataqa” (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.
Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemu
2. Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:3
Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur’an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.
3. ia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)
Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala.
Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.
Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur’an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur’an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.
3. Ayat ke-11 dari Surat Ath Thaariq dalam Al Qur’an, mengacu pada fungsi “mengembalikan”
“Demi langit yang mengandung hujan.” (Al Qur’an, 86:11)
Kata yang ditafsirkan sebagai “mengandung hujan” dalam terjemahan Al Qur’an ini juga bermakna “mengirim kembali” atau “mengembalikan”
Sebagaimana diketahui, atmosfir yang melingkupi bumi terdiri dari sejumlah lapisan. Setiap lapisan memiliki peran penting bagi kehidupan. Penelitian mengungkapkan bahwa lapisan-lapisan
Lapisan Troposfir, 13 hingga 15 km di atas permukaan bumi, memungkinkan uap air yang naik dari permukaan bumi menjadi terkumpul hingga jenuh dan turun kembali ke bumi sebagai hujan.
Lapisan ozon, pada ketinggian 25 km, memantulkan radiasi berbahaya dan sinar ultraviolet yang datang dari ruang angkasa dan mengembalikan keduanya ke ruang angkasa.
Ionosfir, memantulkan kembali pancaran gelombang radio dari bumi ke berbagai belahan bumi lainnya, persis seperti satelit komunikasi pasif, sehingga memungkinkan komunikasi tanpa kabel, pemancaran siaran radio dan televisi pada jarak yang cukup jauh.
Lapisan magnet memantulkan kembali partikel-partik
Sifat lapisan-lapisan
sorry ini menurut agama saya..kalo tidak berkenan silahkan didelete informasi yang saya berikan diatas..
dan saya menemukan keilmiahan antara teori yang di berikan pada manusia abad ke 7 (nabi saya Muhamad SAW) dapat dijelaskan secara ilmiah pada abad ke 20
mana yang bukan ilmiah??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar