Kamis, 08 Januari 2015

PERTENTANGAN ANTARA AGAMA DAN KOMUNISME

PERTENTANGAN ANTARA AGAMA DAN KOMUNISME

Dilihat dari sejarah agama-agama besar dunia, agama dan komunisme sangat bertentangan. Karena komunisme berdasar pada materialisme. Sebaliknya agama berdasar atas kepercayaan pada yang gaib, yaitu sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh panca indera. Pengetahuan tentang gaib itu semata-mata berdasar petunjuk Tuhan. Karena orang percaya kepada Tuhan, maka ia pun percaya kepada firman-firman-Nya dan petunjuk-petunjuk-Nya, termasuk hal-hal gaib.

Dalam melihat hubungan Tuhan dan manusia menurut konsepsi ajaran Islam, Ali Syari’ati mengemukakan bahwa dalam filsafat Islam, hubungan antara Tuhan dengan manusia bersifat timbal balik. Pengetahuan mengenai diri dan pengetahuan mengenai Tuhan menjadi searti, atau kemungkinan lainnya adalah pengetahuan mengenai diri berfungsi sebagai pendahuluan bagi pengetahuan mengenai Tuhan.

Kita kutip disini ucapan mendalam dari seorang sufi Iran yang bernama Bayazid Bestami : “bertahun-tahun aku mencari Tuhan dan menemukan diriku ; sekarang aku mencari diriku ; kutemukan Tuhan.” Amat bertentangan dengan pendapat Feurbach dan Marx, menurut Islam bukannya manusia yang telah membuat Tuhan, meletakkan nilai-nilainya sendiri di dalam-Nya dan sekarang menyembah-Nya, melainkan Tuhanlah yang telah membuat manusia melatakkan nilai-nilai-Nya di dalam manusia dan kemudian memuji-Nya !.

Maka sekiranya Marx bukannya berbicara mengenai keterasingan Tuhan dari diri-Nya dihadapan humanitas, maka ucapannya itu paling tidak akan menarik sebagai semacam sindiran filosofis. Dapat dimengerti bahwa kita tidak lagi membicarakan pertentangan antara agama dengan materialisme atau antara Islam dengan materialisme-dialektika, melainkan mengenai masalah manusia. Setiap ideologi, baik agama maupun anti agama, selalu berkisar di sekitar manusia dan memang disinilah Marxisme amat berbeda dengan Islam. Perbedaan yang makin besar ini merupakan akibat alamiah dari dua pandangan-dunia yang bertentangan yang melahirkan kedua hal ini, dan yang mendasari keseluruhan sikap mereka dalam menafsirkan gejala.

Dengan titik tolak inilah Islam dan Marxisme terbukti tidak dapat rukun berdampingan dalam semua bidang – politik ekonomi, etika dan persoalan sosial. Islam menafsirkan dan menilainya dengan dasar tauhid, sedangkan Marxisme menilainya dengan dasar taulid (produksi). Jadi, kita tahu bahwa, baik dalam teori maupun praktek, komunisme Marx berusaha membenarkan dirinya dengan dasar nilai moral dan cita-cita manusia yang tertinggi dan menunjukkan dirinya sebagai perwujudan dari humanisme secara pesat merosot ke dalam ekonomisme.

Adapun yang berkenaan dengan hujatan sarjana-sarjana komunis mengenai Islam dan Nabi Muhammad, ditangkis oleh VV Bertold (1869-1930) seorang orientalis terkenal dan seorang yang ahli tentang agama Islam. Ia menulis bahwa Nabi dari agama yang timbul kemudian ini, yang mengumpulkan rakyatnya untuk menyatukan diri sesuai dengan prinsip-prinsip persamaan dan persaudaraan, pencela kesalahan-kesalahan yang dilakukan pemimpin-pemimpin, pahlawan si miskin terhadap si kaya, orang inilah yang menjadi pemimpin negara. Tetapi karya Bartold dianggap tidak sesuai dengan ideologi komunis sehingga akhirnya bukan saja tidak dihiraukan tetapi dikecam habis-habisan.

Alhasil pandangan-pandangan dan sikap kaum komunis terhadap agama tidak didasarkan kajian yang sungguh-sungguh dengan lapang dada. Sebaliknya didasarkan pada fanatisme buta terhadap dogma komunisme. Oleh karena itu sampai kapanpun tidak dapat didamaikan apalagi disatukan. Karena keduanya sangat bertentangan. Lebih-lebih ajaran komunisme tidak dapat memberikan toleransi sedikitpun kepada faham lain yang berbeda dengannya.

Dalam sejarah pemikiran manusia, banyak orang yang atheis atau menyangkal Tuhan. Namun mereka pada umumnya tidak memaksakan keyakinannya tersebut kepada orang lain. Sebaliknya kaum komunis yang atheistik itu, sejak Marx sampai kini akan terus memaksakan keyakinannya kepada orang lain, baik melalui propaganda maupun melalui kekerasan senjata. Sebab bagaimanapun kata Mao Zedong, "kekuasaan lahir dari laras senjata."

Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa atheisme dalam ajaran komunisme adalah atheisme destruktif karena sifatnya yang menghancurkan terhadap faham dan penganut faham lain. Hal ni terbukti dalam penyebaran dan pelaksanaan ajaran komunisme di seluruh dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar